Gue 27 tahun. Tinggal di Jakarta. Rumah gue di Bogor.
Dan ada satu kebiasaan yang nggak pernah gagal muncul di hidup gue: tiap dua minggu sekali gue pulang Bogor. Kadang ada urusan keluarga, kadang ada yang harus dicek di rumah, kadang ya… gue cuma kangen rasa “pulang” yang nggak bisa digantiin sama weekend di Jakarta.
Kalau lo pernah bolak-balik Jakarta–Bogor naik motor, lo pasti ngerti: itu bukan cuma perjalanan. Itu ujian kesabaran yang dikasih backsound klakson.
Dan di tengah ujian itu, gue punya satu kebutuhan yang kalau nggak terpenuhi, gue jadi manusia setengah jadi:
Gue harus dengerin sesuatu.
Musik, podcast, apa aja. Yang penting kepala gue ada yang nemenin.
Masalahnya, gue juga punya identitas lain yang nggak kalah konsisten: gue irit. Kadang irit yang “bagus, efisien”, kadang irit yang “bangsat, ribet amat.”
Makanya selama ini gue nggak langganan streaming. Bukan anti—lebih ke… gue selalu merasa, kalau bisa gratis, kenapa bayar? Dan ternyata semesta juga punya hobi: kalau lo terlalu nyaman sama yang gratisan, dia akan bilang, “Udah ya, cukup.”
Dulu Gue Punya Trik: YouTube via Chrome, Background, Tanpa Aplikasi
Dulu gue punya jurus. Jurus “anak hemat yang kebetulan pinter ngakal-ngakalin.”
Gue dengerin musik dari YouTube bukan lewat aplikasi, tapi lewat Chrome di iPhone 14 Pro gue. Terus gue bikin suaranya tetap jalan meski layar mati.
Ritualnya (yang kalau ditulis rasanya kayak resep jamu):
- play lagu minimal 10 detik,
- lock screen,
- nyalain layar tapi jangan unlock,
- pencet tombol play di lock screen,
- lock lagi.
Selesai.
Gue jalan, musik jalan, hidup lumayan jalan.
Gue pake Huawei FreeBuds 6i, jadi rasanya kayak punya studio mini di kepala. Jakarta–Bogor berubah jadi “perjalanan sinematik”, bukan “perjalanan penuh knalpot.”
Trik itu memang nggak sempurna. Kadang kalau kelamaan dia pause sendiri dan gue harus ulang step. Tapi buat gue itu masih masuk kategori “murah.” Murah itu bukan cuma duit—murah juga bisa berarti: gue masih bisa tahan ribetnya.
Hari Ini Trik Itu Mati. Resmi.
Dan per hari ini, trik itu udah nggak jalan.
Gue nggak tau penyebabnya apa. Bisa iOS, bisa Chrome, bisa YouTube makin pinter, bisa juga Tuhan lagi ngajarin gue buat berhenti sok-sokan.
Yang jelas, gue ngalamin lima tahap kesedihan dalam waktu 3 menit:
1. Denial: “Ah, gue salah langkah.”
2. Anger: “Kenapa sih harus di-update segala?”
3. Bargaining: “Oke, gue play 20 detik deh. 30 detik. 60 detik. Tolong…”
4. Depression: sunyi di jalanan itu beda rasanya.
5. Acceptance: “Yaudah. Berarti gue harus adaptasi.”
Dan adaptasi inilah yang bikin gue kepikiran: sebenernya yang gue butuhin bukan “YouTube gratis”. Yang gue butuhin itu soundtrack buat perjalanan.
Selera Gue: Pop Punk Cover, Lagu Trending, dan Podcast
Gue paling cocok sama:
- Pop punk cover — lagu pop tapi dibikin nendang, gitaran, berisik dikit tapi bikin semangat. Ini cocok buat fase awal perjalanan pas gue masih waras.
- Lagu trending — bukan karena gue pengen jadi anak FYP, tapi biar kalau ada orang ngomongin lagu, gue nggak bengong kayak modem loading.
- Podcast — ini baru gue nikmatin belakangan. Dan ternyata podcast itu enak banget buat motoran: lo kayak ditemenin ngobrol, tapi lo nggak perlu jawab. Hubungan paling sehat.
Yang penting: kepala gue nggak sendirian di jalan.